Tawuran Pelajar Lagi, Korban Tewas lagi (Wajah Pendidikan Sekuler Makin Gelap Gulita)


Oleh : Dr. Ahmad Sastra*

Soeara-peladjar.com - Tawuran pelajar kembali terjadi di Bogor dan Tengerang dan seperti biasa menelan korban tewas. Tawuran pelajar yang terjadi pada 31 Juli 2018 pukul 15.30 WIB di Jln Raya Sepong Tangerang melukai Ahmad Fauzan dengan samurai yang masih menancap di bagian wajah. Sementara tawuran di Bogor terjadi di Bubulak Bogor tanggal 31 Juli 2018 pukul 20.00 dan menewaskan siswa bernama Firgi yang masih duduk di bangku SMP. Jauh sebelumnya juga terjadi tawuran pelajar yang  merenggut empat nyawa calon generasi bangsa di Sukabumi.

Di satu sisi,  kebijakan pemerintah tentang pendidikan karakter bangsa  digulirkan, justru karakter  pelajar  semakin bringas di sisi yang lain. Emosi  amarah  mereka mudah tersulut hanya karena masalah-masalah kecil, bahkan kerap kali tak jelas penyebabnya. Ironinya, luapan emosi yang tak terkendali ini  harus mengorbankan nyawa  sesama pelajar . Wajah buruk sistem pendidikan di negeri ini kembali terkuak. Wajah pendidikan sekuler makin gelap gulita. Prokontra siapa yang bersalahpun menyeruak. Alih-alih menyelesaikan masalah, peristiwa tawuran tetap terjadi dan semakin menggila.

Aksi tawuran pelajar  yang berujung kematian hanyalah sekelumit dari aksi-aksi serupa yang melibatkan mahasiwa ataupun warga. Aksi premanisme dan kekerasan seolah telah menjadi cara menyelesaikan masalah di negeri ini. Ranah hukum tak lagi dianggap mampu menyelesaikan perkara. Akibatnya, jalan pintas dengan melakukan main hakim sendiri kerap menjadi solusi alternatif. Nampaknya ada gejala stress dan depresi sosial di tengah masyarakat Indonesia akibat kesalahan sistem yang ada. Pendidikan negeri ini telah gagal memanusiakan manusia.

Jika dirunut ke belakang, aksi tawuran pelajar yang merenggut nyawa siswa belasan tahun bukanlah peristiwa baru.  Secara faktual tawuran selalu melibatkan dua elemen yang berbeda. Demikian juga bentrok-bentrok sosial selalu dilakukan antar dua kelompok yang berbeda. Catatan kerusuhan selama tahun 2012 diwarnai adanya bentrok dua elemen yang dilatarbelakangi oleh perbedaan partai, perbedaan group sepak bola, perbedaan suku,  perbedaan organisasi  massa, perbedaan keyakinan,  perbedaan sekolah atau kampus dan bentuk perbedaan elemen sosiologis lainnya. Fenomena ini menunjukkan indikasi adanya problem psikososial sebagai pemicu berbagai tawuran dan bentrok sosial lainnya.

Kematian pelajar korban tawuran tentu mencoreng wajah pendidikan di Indonesia. Sebab kematian pelajar bukanlah kematian pertama dalam aksi tawuran pelajar. Entah sudah berapa jumlah siswa yang telah tewas sia-sia di tangan siswa yang lain. Kematian empat pelajar di Sukabumi juga bukan korban terakhir dari aksi tawuran pelajar. Mungkin akan menyusul kematian-kematian lainnya dari berbagai sekolah lain di wilayah Indonesia ini.  Negara ini telah gagal menangani dan  menghentikan  aksi tawuran pelajar yang notabene masih tergolong anak-anak.

Undang-undang No 20 tahun 2003 mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang mampu melahirkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa serta memiliki akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan berbangsa. Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang  Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang  bertanggungjawab.

Namun demikian,  fakta di lapangan adalah fenomena paradok, sebagaimana diakui oleh Zakiah Daradjat bahwa bangsa Indonesia justru sedang berhadapan dengan permasalahan besar yang sangat mencemaskan jika tidak diperhatikan secara sungguh-sungguh, yaitu permasalahan akhlak atau moral. Ketenteraman batin telah banyak terganggu, kecemasan dan kegelisahan orang telah banyak terasa, apalagi mereka yang memiliki anak dan remaja, yang mulai menampakkan gejala kenakalan dan kekurangacuhan terhadap nilai moral yang dianut dan dipakai oleh orang tua mereka.

Kegelisahan juga melanda institusi keluarga dikarenakan kehilangan harmonisasi dan kesayangan. Banyak anak-anak dari keluarga semacam ini yang enggan tinggal di rumah, senang berkeliaran di jalanan dan tidak ada semangat belajar, bahkan tidak sedikit yang telah tersesat jalan dalam hidupnya.

Undang-undang diatas mengamanahkan kepada pemerintah untuk mampu menyelenggarakan dan merancang sistem yang layak dan berkualitas. Semua komponen dasar pendidikan harus sejalan dengan visi pendidikan untuk membentuk anak yang beriman, bertaqwa, cerdas dan terampil. Diantara komponen  yang harus diperhatikan adalah kurikulum, kualifikasi guru, metode pendidikan, sarana prasarana serta tujuan pendidikan. Pemerintah harus mampu membangun sinergitas konstruktif antara peran guru di sekolah, orang tua di rumah dan komponen-komponen sosial di masyarakat untuk bersama satu visi melakukan pendidikan anak.

Pendidikan sebagai sebuah sistem menghajatkan sebuah kondisi yang kondusif secara menyeluruh yang mampu menjadi lingkungan positif bagi kehidupan anak didik. Sebab secara psikologi sosial, anak didik yang notabene masih berusia remaja, pola pembentukan kepribadiannya  lebih banyak disebabkan oleh faktor ekstenal. Karenanya, upaya penciptaan lingkungan pendidikan yang positif dan holistik adalah sebuah keniscayaan.

Lingkungan positif bagi pendidikan pelajar dimulai dari keteladanan para pemimpian negeri ini. Apalah gunanya konsep pendidikan yang matang jika tidak dibarengi oleh keteladanan moral para pemimpin dan tokoh bangsa ini. Sebab secara normatif, generasi muda adalah calon penerus generasi tua. Bagaimana jika generasi tua adalah berseteru dan bermusuhan berebut kekuasaan, namun setelah berkuasa tertangkap karena korupsi ?. Lingkungan positif bagi pendidikan moral anak juga harus dimulai dari keteladanan guru di sekolah dan orang tua di rumah.

Kedua elemen ini sangat berpengaruh kepada pola pembentukan moral anak. Sebab keduanya adalah orang yang paling banyak menemani perjalanan hidup anak. Keteladanan  tokoh masyarakat juga merupakan kunci pembentukan moral pelajar. Sebab pelajar banyak juga menghabiskan hidupnya di tengah masyakarat. Apalah jadinya jika di masyarakat yang terjadi kondisi yang negatif ?

Pemerintah juga harus melakukan control kuat terhadap peredaran segala macam tontonan yang akan merusak moral siswa. Pemerintah harus memiliki ketegasan untuk melakukan pensortiran atas tayangan televisi  yang terbukti telah banyak menyuguhkan program yang tidak mendidik generasi menjadi generasi sholeh. Berbagai film yang menampilkan perilaku kekerasan dan asusial seharusnya telah lama dihilangkan dari layar kaca itu. Ketegasan pemerintah sangat diperlukan dalam konteks ini.

Perilaku menyimpang yang dialami pelajar seperti tawuran yang kerap terjadi pada prinsipnya karena minimnya pendidikan agama yang diperoleh di sekolah. pendidikan agama bertugas memberikan landasan moral dan etika pada sikap dan perilaku pelajar dalam hubungannya dengan sesama. Pendidikan agama secara psikologi akan memberikan ketenangan, kematangan dan ketenteraman jiwa anak didik.

Dengan demikian agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab agama merupakan motivasi hidup dan kehidupan serta marupakan alat pengembangan dan pengendalian diri yang amat penting.  Oleh karena itu agama perlu diketahui, dipahami dan diamalkan oleh manusia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga ia dapat menjadi manusia yang utuh.

Pada prinsipnya, pendidikan agama adalah pendidikan nilai-nilai agama. Pendidikan agama Islam adalah transformasi nilai-nilai Islam kepada anak didik. Tujuan utamanya adalah untuk membentuk hamba Allah yang beriman dan tertaqwa. Pendidikan nilai yang perpangkal pada pembentukan karakter mulia pada hakekatnya adalah internalisasi nilai-nilai agama.

Beriman dan bertaqwa dalam tujuan pendidikan Nasional adalah implementasi pendidikan nilai yang dimaksud. Iman dan taqwa adalah dua istilah yang sangat dekat dengan terminologi Islam. Iman dan taqwa hanya akan ditemukan makna sesungguhnya dalam ajaran Islam. Mamaksakan makna iman dan taqwa dalam perspektif kebangsaan hanya akan menimbulkan kerancuan makna. Iman dan taqwa yang melekat pada diri anak didik akan menumbuhkan mereka berkepribadian Islam atau sering kita sebagai anak sholeh.

Sekolah harus membuka lebar ruang-ruang pendidikan agama di sekolah, baik formal maupun tidak formal. Menambah jam pendidikan agama dan moral adalah langkah awal yang harus dilakukan pemerintah. Keteladanan guru di sekolah menjadi daya dukung kuat untuk menjadikan anak yang sholeh di sekolah. Penguatan kegiatan-kegiatan keagamaan siswa seperti rohis adalah langkah strategis bagi upaya penguatan moral pelajar. Belum pernah terjadi tawuran pelajar yang melibatkan anak-anak rohis di sekolah. Rohis terbukti telah memproduksi anak-anak yang memiliki kepribadian sholeh.

Gagasan besar dan mendasar yang harus dipikirkan pemerintah di masa mendatang dalam rangka membentuk generasi yang beriman, bertaqwa, berakhlak dan cerdas adalah merevitaslisasi sekolah-sekolah tingkat SMP, SMA dan S1 menjadi sekolah berbasis asrama selayaknya pesantren. Sekolah model asrama sering disebut dengan istilah boarding school. Sebab tawuran kerap terjadi pada pelajar SMP, SMA dan beberapa mahasiswa S1. Belum ada dalam sejarah pendidikan,  sekolah asrama atau pesantren terlibat tawuran.

Boarding school merupakan konsep pendidikan yang paling ideal. Dengan model boarding, siswa akan mendapatkan hak pendidikannya secara optimal. Keleluasan waktu pendidikan yang hampir 24 jam akan memungkinkan seluruh program pendidikan untuk meraih visi generasi unggul akan bisa dilakukan. Revitalisasi ini memang membutuhkan political will yang tinggi dari pemerintah sekaligus anggaran yang tidak sedikit.

Diperlukan sumber daya guru yang mumpuni sebagai pendidik dan diperlukan anggaran untuk revitalisasi infrastruktur sekolah secara besar-besaran. Namun demikian, Indonesia adalah bangsa besar, hal ini pasti bisa dilakukan. Revitalisasi model boarding school ini akan berdampak positif bagi pembentukan moral dan kepribadian sholeh generasi muda Indonesia di masa jauh mendatang. Sebab bangsa ini membutuhkan generasi penerus untuk sepuluh hingga ratusan tahun mendatang.

Pendidikan adalah masalah vital dan tidak bisa dipandang atau dikelola secara serampangan. Oleh karenanya, saatnya pemerintah  melakukan pembenahan fundamental dan visioner terhadap sistem penyelenggaraan pendidikan nasional, jika masih ingin melihat Indonesia berdiri tegak menjadi bangsa besar. Sebuah pepatah menyebutkan jika ingin membangun harapan setahun ke depan tanamlah jagung, jika puluhan tahun mendatang, tanamlah kelapa, jika ingin membangun harapan ratusan tahun mendatang, maka didiklah anak-anak dengan baik.

Semoga tidak ada lagi nyawa melayang sia-sia karena faktor amoralitas pelajar akibat sistem pendidikan sekuler di negeri ini. Saatnya pemerintah melakukan revitalisasi sistemik terhadap sistem pendidikan berbasis nilai spiritualitas melalui pendekatan boarding. (ar)

[AhmadSastra, KotaHujan, 01/08/18 : 17.30 WIB]

*Forum Doktor Islam Indonesia
Tawuran Pelajar Lagi, Korban Tewas lagi (Wajah Pendidikan Sekuler Makin Gelap Gulita) Tawuran Pelajar Lagi, Korban Tewas lagi (Wajah Pendidikan Sekuler Makin Gelap Gulita) Reviewed by arman on Agustus 02, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.