Back to Muslim Identity!


Oleh : Amrina Rosyada

Soeara-peladjar.com - Masih terpatri dalam ingatan kita sebuah kata magis yang familiar di telinga masyarakat, terkhusus bagi para pelajar serta abege, “Jangan rindu, itu berat. Biar aku saja.” (ceilehhh…). Entah sebab apa, kata-kata ini begitu viral di jejaring sosial dan menjadi menjadi perbincangan hangat yang tiada habisnya, khususnya bagi para remaja yang lagi baper.

Yap, film “Dilan 1990” yang sudah tayang di Sinema sejak akhir Januari 2018 ini konon telah ditonton oleh satu juta orang dalam jangka waktu 4 hari saja gaes. Wuihh.. bombastis tuh.

Pasalnya, penonton film percintaan ini notabene adalah remaja en remaji yang telah terhasut oleh trailer nya yang emang bikin baper. Segala cara mereka tempuh agar bisa dapetin tiket nonton Dilan sambil asik makan popcorn di bioskop.

Padahal ya guys, kita masuk ke ruang bioskop aja udah termasuk dosa lho, karena kursi tempat duduk Antara penonton cowok dan cewek nggak dipisah, deketan pula. Istilah kekiniannya tu ikhtilat, yakni campur baur Antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Nah lho…

Film yang temanya tak jauh dari pacaran dan pergaulan bebas ini juga secara tidak langsung mengajarkan pada remaja tentang bagaimana idealnya masa remaja yang bahagia. Sangat terlihat bahwa menurut mereka, remaja yang bahagia adalah remaja yang punya pacar, sukanya tawuran biar dicap keren, suka mbolos sekolah, dan bebas tanpa terkekang aturan guru dan orangtua.

Ini maksud tersirat yang sengaja mereka sisipkan untuk membuat remaja lupa akan jati dirinya sebagai seorang pelajar, seorang penuntut ilmu. Pemikiran semacam ini adalah pemikiran para Hedonis, yakni orang-orang yang hanya mementingkan kesenangan duniawi yang teramat fana ini sob. Bagi mereka mah, yang penting hidup happy, perkara akhirat mah ntaran aja kali yaa. Na’udzubillah…

Tak hanya film Dilan, dunia entertainment lainnya seperti film dan drama juga sarat dengan paham yang semakin menjauhkan remaja dari nilai-nilai Islam. Bisa kamu rasakan faktanya, sekali buka televisi, yang muncul adalah channel-channel yang menayangkan sinetron percintaan remaja dan sederet film-film barat yang melenakan. Giliran ganti channel, eh ternyata ada acara rumpi ala-ala artis terviral di kancah media. Sangat jarang kita temui acara-acara edukasi maupun berita terfaktual yang bisa menambah wawasan dan cakrawala berpikir si pemirsanya.

Inilah sebagian kecil dari potret buram dampak diterapkannya sistem Kapitalis-sekuler di Negeri kita juga, pun juga mayoritas negeri lainnya. Negara yang mayoritas penduduknya adalah pemeluk Islam, namun mempunyai phobia (ketakutan) yang luar biasa ketika aturan Islam diterapkan. Kapitalisme telah berhasil membuat kaum Muslim berpikir bahwa agama Islam hanya mengatur aspek ritual belaka, dan tak percaya akan keberadaan Islam Kaaffah, yakni Islam yang tak hanya mengatur soal ibadah, namun juga politik.

Akibatnya sudahlah jelas, banyak remaja yang hidup tanpa tujuan yang jelas. Berlomba-lomba meraih prestasi akademis namun buta akan ilmu fiqih. Atau sebaliknya, menjadi ketua rohis di sekolah serta getol beribadah namun gengsi untuk mendakwahkan Islam yang mulia dengan alasan takut dicibir bahkan dijauhi teman. Ini nih paradigma berpikir yang sangat berbahaya, seiring dengan jargon yang sejak dulu didengung-dengungkan oleh para pemikir yang benci akan Islam, “Ingin Dunia tinggalkan agama dan ingin agama tinggalkan dunia ”.

Jadi gini sob, kita sebagai remaja yang terlahir dari ibu dan bapak yang di KTP nya bertuliskan “agama : Islam” harus mulai berpikir secara universal dan mendalam sekaligus meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan sempurna. Sesuai fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati kita. Emang tidak mudah untuk dapat meyakininya 100%, butuh ma’lumat (informasi) yang akurat dan proses berpikir yang panjang.

Namun yakinlah bahwa Allah telah menurunkan pedoman hidup tersempurna dan terparipurna untuk seluruh makhlukNya yang mampu berpikir dengan potensi akalyang dimilikinya. Pedoman yang wajib diadopsi oleh umat yang menginginkan kebahagiaan mutlak di dunia hingga akhiratNya.

Ibarat handphone, pasti ada pabrik yang menciptakan dan punya alasan penciptaannya serta bagaimana cara penggunaannya. Tentunya agar hp yang kita gunakan bisa awet dan tidak rusak. Semua itu telah tertulis dalam buku panduan atau Bahasa kerennya adalah manual instruction. Manual instruction bagi manusia inilah yang dinamakan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berbagai dalil far’i (cabang) lainnya.

Maka kita sebagai makhluk ciptaan alias si pengguna hp (dalam permisalan) harus menggunakan hp ini sesuai instruksi yang telah ditentukan oleh pabrik pembuat hp. Kalo misal nih, kamu menggunakan hp gak sesuai buku panduannya, tapi kamu nanya sama mbah kamu yang kolot alias belum pernah pegang hp sama sekali, apa akibatnya? Wassalam aja.. bisa dipastiin kamu gak bakal nemuin solusi atau bahkan hp mu akan bermasalah lahir & batin. Tul apa betull…

Ini dia yang dimaksud dengan kekeliruan cara berpikir mayoritas umat muslim saat ini. Taraf berpikir yang telah memasuki titk terendah-serendah-rendahnya. Gimana nggak, udah banyak fakta tentang kebobrokan remaja yang bagaikan virus mewabah disana-sini, angka pengangguran yang makin tak terkontrol mengakibatkan angka kemiskinan mencapai prosentase tertinggi, belum lagi permainan politik kotor yang makin bullshit.

Kaum muslim kini terminorkan dalam segala bidang, akibat dari phobia luar biasa itu tadi. Kaum muslim mulai mengabaikan solusi-solusi dan rujukan yang termaktub dalam manual instruction, yakni al-qur’an dan as-sunnah. Menganggap bahwa Islam hanya soal sholat, zakat, puasa, de-ka-ka-nya. Disisi lain, kaum muslim masih ragu akan keharaman riba karena pola pikir mereka hanya berasaskan keuntungan. Merasa eman kalau tak mengambil bunga tambahan. Sistem ekonomi yang dianut juga tak sesuai standar halal-haram. Menjadikan yang kaya makin konglomerat dan yang miskin makin melarat.

So guys, lets back to the real muslim identity. Saatnya kita kembalikan identitas Muslim yang sesungguhnya! Agar kaum muslim tak lagi terpuruk, terbelakang, dan putus asa. Saatnya kita temukan sesuatu yang hilang dari jati diri remaja muslim, untuk kemudian kita satukan dalam frame Islam Kaaffah. Saatnya kita bangkit dan membangkitkan umat yang sedang terlelap ini. Jangan mau jadi budak duit yang silau akan kebangkitan semu dunia Barat. Keep Istiqomah, Guys!

Jadikan al-qur’an dan as-sunnah sebagai rujukan dalam diri tiap individu hingga Negara sehingga kita tidak lagi tertipu dengan standar, aturan, dan nilai-nilai rendah yang mereka jual kepada kita yang mayoritas pemeluk Islam.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS. Al Maidah : 50). (ar)
Back to Muslim Identity! Back to Muslim Identity! Reviewed by soeara peladjar bangkit on September 11, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.