Allah, I’m Yours


Oleh : Mila Ummu Tsabita*

Soeara-peladjar.com - Tia, seorang gadis manis termenung di ujung malam yang tengah gerimis. Matanya sembab, tak bisa menahan tangis. Tak habis pikir, mengapa semua peristiwa ‘berat’ menimpanya? Mulai dari kehilangan Papa, yang sangat menyayanginya. Dua bulan yang silam. Lalu kali ini, dia pun tak lulus SBMPTN di kampus favoritnya. Mama pun sering membandingkan dia dengan saudara yang lain, yang lebih cerdas lah –lebih cantik -lebih gesit- lebih kreatif lah.  Ah.. betapa rumit hidup gadis ini.

Terlintas sebuah pertanyaan di hati kecilnya: “Katanya Allah Maha Adil, tapi kok aku hidupnya susaaaah?“

Air matanya merembes lagi di sejadah yang sudah cukup lama  tak disentuh.  Sujudnya di sholat malam –yang tetiba ingin dilakukan- jadi agak lama, disertai gumpalan-gumpalan sesak di dada yang harus segera dimuntahkan. Hiks...

===========

Galau, pusying, sesak oleh beban kehidupan, dan ga ngerti apa yang harus dilakukan, bisa saja menimpa siapa pun. Apalagi remaja kekinian. 

Tak hanya Tia, jangan-jangan kamu juga ya , Sob ? Ih, nuduuh. Nah, biar galau nya ga istiqomah dan keseringan. Penting ya untuk merevisi pemahaman kita tentang kehidupan. Agar jiwa dan pikiran jernih, tidak didominasi oleh kekecewaan. Apalagi putus harapan.
Merevisi pemahaman melihat kehidupan.

Dunia memang dengan sengaja Allah  ciptakan sebagai tempat ujian. Tak ada satu pun di  dunia ini yang ga merasakannya alias mulus hidupnya dari yang namanya ujian bin cobaan.  Baik yang beriman maupun tidak,  semua mendapat bagian yang sama, diuji. Bedanya, yang beriman semakin bertambah keimanannya semakin berat pula ujian yang diterimanya.

Bentuk ujian bisa bikin  “senang” atau “sengsara”, misal punya kelimpahan harta. Bisa juga kekurangan harta.  Karena dengan itu Allah Ta’ala ingin mensortir siapa di antara para hamba yang terbaik dan berkualitas  amalnya, sehingga layak mendapatkan al Jannah.

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (TQS. Al-Mulk :  2).

Jadi, sehat-sakit, bahagia-sengsara, sukses-gagal, bahkan hidup-mati, sebenarnya cuma ujian atau cobaan dari Allah.  “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan , kekuarangan harta, jiwa dan buah-buahan,.  Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. “ (TQS. Al Baqarah : 155). 

Imam Syafi’i mengatakan bahwa seseorang diintai oleh rizkinya, sebagaimana ia diintai ajalnya. Sekali lagi, tak ada yang bisa menolak ujian dan cobaan dari Allah, bagaimana pun “sakti’nya dia.. (emang ada orang sakti ? he he).

Namun, pemahaman kita terhadap ujian akan mempengaruhi resistensi menghadapi semua yang menimpa.  Imam Ibnu Qayyim Al Jauziy menceritakan kekayaan batin Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah dalam menghadapi serangan musuh-musuhnya:  Beliau berkata kepadaku, “Apa yang dilakukan musuh-musuhku?  Bahwasanya surgaku dan tamanku berada di dalam dadaku, di mana pun aku berada ia bersamaku. Tak kan terpisah. Sesungguhnya penjaraku adalah khalwatku, matiku adalah kesyahidan, terusirnya aku dari negeriku adalah tamasya. “Maasya Allah. Sungguh, selalu bahagia orang yang beriman.

Karena ujian dan cobaan hidup sebenarnya ga kan membuat kita menderita. Kecuali karena pikiran kita lah yang menggiring pada kesimpulan itu. Maka kemiskinan ruhiyah (iman) yang bisa membuat seseorang  tak sanggup dan galau menghadapi segala yang menerpa. Padahal ada orang yang diberi ujian kesenangan seperti kaya, tampan atau cantik, bahkan populer... (siapa sih yang dimaksud ?).

Contohnya,  Elvis Priestley dan Whitney Houston yang akhirnya mati dalam ketidakbahagiaan yang mereka rasakan. Tak sanggup mereka menerima berbagai kenyataan hidup.  Karena mereka tak tau hakikat kehidupan ini seperti apa dan ke mana harus mengadu?

Berbeda dengan yang beriman, mereka akan menganggap ujian, cobaan, musibah, what ever lah namanya... itu bagian dari asam manisnya kehidupan.  Bayangin aja, kalau minum atau makan yang manis mulu, apa ga jadi diabetes,  Sob ?  Makanya perlu juga minum kopi pahit atau minum jamu biar sehat. Jadi tak apa ada tangis, ada sedih, kecewa, bahkan kehilangan yang kita cintai, tapi jangan sampai kita lupa bahwa semua adalah takdir dari-Nya. Sehingga hati, lisan dan sikap kita tak menyimpang dari ketentuan-Nya.

Sungguh Rasulullah Saw memuji orang yang mukmin :
 “Menakjubkan perkara orang yang beriman, seluruh urusannya adalah baik dan tidak ada pada yang lain kecuali pada mereka yang beriman.  Jika  ia mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ia mendapat musibah ia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)

Di sisi lain, tau kah Sobat bahwa di balik ujian berupa banyak kesulitan dan penderitaan ada kemudahan yang mengiringinya. Allah  berfirman,“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan,” (TQS. Al-Insyirah : 5).

Sungguh Allah Ta’ala mengulang lagi kabar gembira ini, bahwa sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.
Ibnu Jarir mengatakan, terkait surah Al Insyiroh ini, Al Hasan menceritakan bahwa Rasulullah Saw keluar dalam keadaan senang dan riang seraya tersenyum, lalu bersabda:  “Satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan dapat mengalahkan dua kemudahan. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Nasihat dari Imam Syafii :
“Bersabarlah dengan kesabaran yang baik, maka alangkah dekatnya jalan kemudahan itu. Barang siapa yang merasa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah dalam semua urusan, niscaya ia akan selamat.  Dan barang siapa yang membenarkan janji Allah, niscaya tidak akan tertimpa oleh musibah. Dan barang siapa yang berharap kepada Allah, maka akan terjadilah seperti apa yang diharapkan."

Allah , I’m Yours

Seluruh alam semesta adalah milikNya, termasuk manusia. Allah telah tetapkan takdir manusia ketika ia masih di perut ibunya. Rasulullah Saw bersabda : “ ...kemudian diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya (rahim ibu) dan diperintahkan pula untuk mencatat empat kalimat. Maka malaikat itu menulis tentang rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan celaka atau bahagianya...” (HR. Bukhari dan Muslim).

Lalu, apakah kita pasrah? Tanpa ikhtiyar ? Nunggu rizki turun dari langit, gitu. Nunggu sang jodoh, mampir ke rumah tanpa usaha.  Kalau sakit ga usah ke dokter. Toh hakikatnya, kesembuhan juga dari Allah. Maka kita diam atau berusaha akan sama saja hasilnya?

Nah saya mau tanya, memangnya manusia sudah tau dia telah ditakdirkan apa oleh Allah, yang sudah tertulis di Lauh Mahfudz? Emang bisa dapet bocorannya? Ya tau sendiri kan, saking penasarannya, meramal nasib dilakoni. Bahkan sampai main dukun.   Padahal tak ada satu pun manusia yang tau soal ini, termasuk para dukun itu.

Sudah seharusnya, seorang yang beriman tidak mudah galau. Karena dia paham tentang Taqdir Allah yang takkan bisa ditolak. Di sisi lain, kita tau Allah memerintahkan ikhtiyar. Untuk mencari rizki yang halal, jodoh yang sholih/ah , agar pintar, agar sukses, agar bisa selamat di perjalanan, dsb, tentulah manusia harus berusaha optimal.

Jadi di samping wajib iman pada seluruh perkara  iman (rukun iman), dia juga  harus sadar kewajiban syariat untuk berikhtiyar (usaha) yang halal.  Misalnya, untuk meraih harta yang halal maka Allah memerintahkan kita bekerja :

“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagi kamu , maka berjalanlah di segala penjurunya dan  makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepadaNya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (TQS. Al Mulk : 15).

Bekerja, untuk mencari rizki yang halal adalah bentuk ibadah kepada Allah.  Dia akan mendapat limpahan pahala atas itu. Sebelum bekerja hendaklah seorang yang beriman selalu tawakkal kepada Allah. Karena kita semua hanya bisa menyandarkan segala urusan kepada Sang Pemilik alam semesta seluruhnya. Semoga ikhtiyar kita dmudahkan ya , Sob. “Dan siapa saja yang bertawakal kepada Allah maka Dia yang akan mencukupkan keperluannya." (TQS. Ath-Thalaq  : 3)

Nah, jika hasilnya tak sesuai harapan, dengan iman pula kita bisa  ikhlas menerima takdir tersebut.  Karena itu pasti yang terbaik untuk manusia.  Segala kesengsaraan yang dirasakan orang yang beriman di dunia, insyaa Allah dalam kesanggupan manusia.  Allah takkan zalim kepada hambaNya. (QS. Al Baqarah : 286).

Maka berdoalah, serahkan segalanya kepada Zat yang mengatur segala sesuatu.  Tanpa ada sedikit pun keraguan bahwa Allah pasti mendengar setiap keluh kesah hambanya,  yang meminta dengan penghambaan yang total.  Jadi udah, jangan galau dan sedih lagi ya, Tia. Sobat yang lain juga. Tanamkan di hati : Allah , I’m Yours. (imn)

==================
*penulis pegiat dakwah komunitas remaja

Allah, I’m Yours Allah, I’m Yours Reviewed by soeara peladjar bangkit on Oktober 02, 2018 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.